TRAXMAGZ.com
FOLLOW US ON:
Facebook Twitter Google Plus
Loading
ADVERTISER / SUBSCRIBERS

The Coolest All-Female Band of Right Now (?)


16 SEPTEMBER 2014


Yogha Prasiddhamukti

Apakah benar? Apakah label tersebut cocok dengan band ini? Suka atau tidak, setuju atau kurang setuju, di era musik indie modern saat ini dan banyaknya band yang seluruh personilnya adalah perempuan, Warpaint berhasil menjadi salah satu yang teratas dan berkarakter.

 

Selama lima tahun belakangan, empat perempuan cantik asal Los Angeles, Amerika Serikat ini berhasil menyusup masuk ke dalam indera pendengar publik untuk perlahan mengambil hati kita semua lewat karya-karya musik yang mereka hasilkan. Mungkin tidak ada yang bakal menyangkal jika kuartet ini dibilang berhasil menahbiskan diri mereka sendiri menjadi the 'it' band di kancah musik indie modern.

Mereka mengawali semuanya dengan mini album Exquisite Corpse lalu berjalan terus hingga tahun 2010 semakin mencuri perhatian sekaligus mendapatkannya lewat album debut berjudul The Fool. Vokalis, gitaris, dan kibordis Emily Kokal, vokalis/gitaris Theresa Wayman, bassist/vokalis Jenny Lee Lindberg, dan drummer Stella Mozgawa berhasil menciptakan apa yang disebut dengan dunia neo-psikedelia ala mereka sendiri dengan vokal dan melodi menghipnotis, line-line gitar dan rhythm yang tidak biasa, dengan estetika post-punk yang indah. Apalagi dengan rilisan terbaru mereka awal tahun kemarin, yaitu sebuah album selftitled yang banyak mendapat respon positif dari fans dan media.

Berada di wilayah tertentu di antara hangat dan dingin, gelap dan terang, kesedihan dan euforia kesenangan, Warpaint selalu terdengar misterius, artistik, dan menawan disaat yang bersamaan. Banyak yang tidak segan untuk menyebut musik Warpaint sebagai sesuatu yang cukup kompleks untuk ditempatkan ke dalam kategori tertentu. Butuh usaha dan niat lebih untuk akhirnya bisa menikmati musik mereka secara keseluruhan. Kami pun berkata seperti itu. Seperti Mungkin sama rasanya ketika mendengarkan rekaman-rekaman awal milik Pink Floyd atau Radiohead era elektronik - paska album pertama mereka.

“Semuanya datang dari energi unik masing-masing dan tempat unik masing-masing. Saya pikir ini tentang mengekspresikan emosi Anda dan menggunakan musik sebagai fasilitator untuk melakukan hal itu. Dan juga, menurut saya lagi, (musik kami) itu adalah penyatuan kami dan bagaimana kami bekerja. Mood yang kami hasilkan di musik kami seakan terjadi secara alami begitu saja, tanpa ada kesengajaan untuk melakukan itu,” ungkap Emily Kokal dalam sebuah wawancara yang memunculkan pertanyaan tentang 'rasa' dari musik Warpaint dalam album selftitled mereka.

Penyatuan empat ide dari empat orang di dalam band juga direpresentasikan lewat artwork sampul album selftitled mereka yang dikreasi oleh sutradara video “Come To Daddy” milik Aphex Twin, Chris Cunningham – yang juga merupakan suami Jenny Lee Lindberg. Gabungan foto transparan mereka berempat, dimana susah dibedakan masing-masing yang mana Wayman, yang mana Lindberg, yang mana Kokal, dan Mozgawa, adalah petunjuk visual bagaimana Warpaint sekarang berevolusi menjadi band utuh dengan kontribusi masing-masing personil yang sama besarnya. “It’s nice that when people think of the band, they think of the music, and not the people making the music,” kata Jenny Lee Lindberg.

Lagi, dalam wawancara sambungan telepon dengan Noisey, pemilik rambut berwarna merah muda ini berkata, “Ketika kami pertama memulai band ini, satu hal yang kami rasakan adalah musik kami terasa begitu mengalir dan alami.” Itu mengenai spontanitas dan ide yang selalu muncul di kepala masing-masing personil. “Kami tidak pernah punya obrolan soal bagaimana seharusnya lagunya, semua hanya terjadi begitu saja. Tetapi ketika kamu makin banyak menulis lagi dan tumbuh bersama-sama sebagai teman dan band, hal itu harus diubah. Kamu mulai punya opini sendiri dan visi sendiri. Karena itu sekarang, penting untuk menjadi terbuka satu sama lain, mengetahui bahwa bukan hanya saya yang ada di band dan bukan tentang apa yang saya mau. Menjadi penting untuk mendengarkan satu sama lain, baik itu di dalam dan di luar band. Dan saya pikir evolusi mindset kami sebagai sebuah band ditunjukan lewat album (selftitled) ini,” tambah Lindberg tentang bagaimana etos berkarya di bandnya itu, termasuk soal hubungan simbiosis pertemanan mereka satu sama lain yang makin dewasa. “Keep it healthy,” tambahnya mengutip salah satu judul lagu di dalam album.

Kokal juga sempat berujar bahwa Warpaint adalah kombinasi dari kolaborasi dan pertempuran ide dari empat orang di dalamnya. “Album adalah muaranya, namun diatas itu semua adalah segi artistik,” katanya yang sepertinya mengarah pada idealisme band.

Dengan musik mereka, Warpaint bukan sebuah band yang dengan mudah meraih kesuksesan dan popularitas mainstream. Mereka sepertinya tidak akan pernah, walaupun punya penggemar yang massal, tentu saja. “Satu hal tentang band kami adalah kami tidak pernah menjadi sesuatu yang diperuntukan untuk semua orang, apalagi ketika dibandingkan dengan pop, dimana kami tidak pernah menulis lagu menggunakan struktur lagu pop,” Kokal menambahkan. “Kesuksesan mainstream itu tidak pernah jadi prioritas kami. Kami sudah menemukan audiens sendiri yang merasakan musik sama seperti kami merasakan musik. Orang-orang yang ingin atau membutuhkannya dan merasakannya, mereka merasakannya dengan sungguh-sungguh. Dan melihat orang yang bisa into sama musik kami itu mengasyikan,” tuturnya lagi.

Warpaint membangun karakter 'biarkan musik yang berbicara'. “Yang penting jujur dan benar-benar datang dari wilayah artistik dan kami merasa melakukan hal itu. You can let the music exist and you can put it out, biarkan orang lain menikmati, kami terus saja lanjut berjalan,” tambah Kokal. Nampaknya itu yang membuat mereka menjadi bersifat lebih seniman dibanding hanya menjadi sekumpulan orang dengan sekumpulan lagu. And that's a pretty cool thing. <

 

 

 

Apa yang Dibawa Warpaint Ketika Tur?

Dengan album baru yang merengkuh banyak respon positif dan status mereka sekarang, Warpaint dihadapkan dengan rutinitas harian yang bernama tur. Dari detik ini hingga akhir tahun nanti, kuartet ini sedang melakukan rangkaian tur panjang yang mencakup wilayah Amerika Utara dan Eropa. Melihat keunikan masing-masing personil, sepertinya menarik untuk tahu apa yang mereka lakukan selama menghabiskan waktu panjang di jalan selama tur. Tentu saja karena kami tidak ikut turnya, rasa ingin tahu sola apa yang terjadi off-stage itu terpaksa kami simpan. Namun alih-alih, kami iseng mencari informasi soal hal esensial dan benda wajib yang masing-masing personil perempuan Warpaint bawa selama tur. Dan tebak, kami akan memaparkannya satu persatu.

 

Kayu Palo Santo

Ini adalah semacam kayu aromatik dari Amerika Selatan, bisa dibakar dan menghasilkan wangi-wangi tertentu seperti aroma terapi. Ini benda wajib milik Theresa Wayman. “Benda ini seakan punya aroma yang sifatnya personal,” ujarnya. “Bakar beberapa di kamar hotel dan seketika kamar itu terasa seperti kamar Anda sendiri.”

 

Big Mac overalls

Jika melihat banyak foto panggung dan tur Warpaint akhir-akhir ini yang muncul di halaman Facebook mereka, selain rambut merah mudanya yang menggoda, kalian pasti akan sering melihat Jenny Lee memakai overall – atau lebih akrab dengan sebutan celana monyet. “Pakaian ini emang yang paling nyaman. Saya sudah sering memakai celana jenis ini sejak SMA; sudah seperti 'seragam',” cerita Lindberg.

 

Akar Rhodiola

Sejenis obat-obatan herbal yang dikonsumsi sang drummer, Stella Mozgawa. “Suplemen alami yang bisa menjauhkan penyakit,” kata dirinya.


 

Pensil mekanikal Ohto dan pena Pigma Micron

Dua merk itu yang didapat oleh Theresa Wayman di Kinokuniya di daerah Little Tokyo, Los Angeles setiap sebelum berangkat tur. “Tur itu berarti Anda akan dikeliling banyak sekali orang setiap saat. Dan akan menyenangkan apabila Anda selalu bisa punya waktu personal yang khusus, untuk membantu Anda tetap terkoneksi dengan diri sendiri. Saya melakukannya dengan menulis,” kata Wayman.


 

Sepatu Nike custom dari Nike iD

Emily Kokal adalah orang yang peduli soal tidak membawa barang bawaan terlalu banyak selama tur. Dan itu berarti hanya ada sepasang sepatu di kopernya. Dalam tur kali ini, sepatu yang dibawanya adalah sneakers Nike yang didesainnya sendiri di Nike iD; semacam layanan khusus di situs Nike dimana konsumen bisa membeli sepatu yang didesain secara pribai oleh sang konsumen sendiri.


 

Garam khusus untuk mandi

Kali ini kembali barang milik Theresa Wayman “Nggak ada salahnya untuk membawa beberapa di dalam tas,” tuturnya. “Merk Whole Foods punya jenis yang bervariasi.”

 

Mau tahu lebih lengkap? Baca TRAX edisi September 2014!

COMMENTS

VIDEO

You need Flash player 8+ and JavaScript enabled to view this video.
Trax_Plug_n_Play_small

TWITSTREAM