TRAXMAGZ.com
FOLLOW US ON:
Facebook Twitter Google Plus
Loading
ADVERTISER / SUBSCRIBERS

“DIAS” Album Debut Pengubah Energi


21 MEI 2016


Dani Febrian Alzamendi

dok.bello

“What is music to you? What would you be without music? Music is everything. Nature is music (cicadas in the tropical night). The sea is music, the wind is music. The rain drumming on the roof and the storm raging in the sky are music. Music is the oldest entity. The scope of music is immense and infinite. It is the ‘esperanto’ of the world.”
[Duke Ellington]
 
Adakah yang membantah bahwa semua titik kehidupan kita, bersinggungan dengan musik? Apa yang dikatakan oleh musisi jazz legendaris Duke Ellington di atas, mempertegas jawaban atas pertanyaan itu. Ketika Diastika Lokesworo menemukan spiritualitas jazz dalam karakter bermusiknya, karyanya mengalir tanpa tembok. Dias memang pendatang baru di dunia jazz. Album debut self-titled-nya terbilang seperti menyusuri industri musik yang tak selalu ramah ini.
 
Dias sendiri menyadari bahwa musik itu bukan saja sebuah seni tapi “instinct”. “Saya nyaman sekali dengan warna gaya musik yang saya bawakan kali ini. Tapi saya cukup percaya diri bila ditanya apa genre musik saya, maka saya tegas menjawab, jazz”, tukas dara kelahiran 11 April 1994 ini.
 
Berbekal karakter vokalnya yang memang unik serta pemahaman musikal yang terbilang memadai juga dukungan total dari orang-orang terdekat, membuat Dias bukan saja optimis merilis album debutnya ini. “Tapi buat saya ini seperti pagi hari yang indah dan kita menyeruput kopi enak, begitulah musik yang saya tawarkan”, tambah perempuan semampai ini lagi.
 
Sebelumnya, Dias sudah melepas single awal berjudul ‘Fire’ dan mendapat respon yang bagus dari penikmat musik jazz tanah air. Kreatifitasnya yang menderas, membuat Otti Jamalus selaku produser dan Yance Manusama sebagai music director, bersikukuh bahwa Dias kudu rilis album. Dias mengamininya dan lahirlah album jazz penuh warna.
 
“Sebenarnya saya menikmati beragam musik, tapi memang favorit saya adala jazz.  Saya menemukan asupan lirik dan lagu yang memberi saya energi positif.  Ketika mendengar dan menyimak lagu-lagu milik Frank Sinatra atau Nina Simone, saya benar-benar terinspirasi,” jelas Dias sumringah.
 
Bersamaan dengan peluncuran albumnya, Dias juga akan merilis single duanya bertajuk ‘Jatuh’. Menariknya, inilah satu-satunya lagu berbahasa Indonesia yang ada di album perdana ini.  “Saya menyakini bahwa lirik berbahasa apapun bukan hambatan.  Penikmat musik di Indonesia sudah membuktikannya kok, saat ini musik dari banyak negara diterima baik dan banyak penggemarnya,” kilah cewek yang pernah menjadi lead singeruntuk choir di helatan Miss Universe pada 2005 lalu.  Soal lagu ‘Jatuh’ Dias bertutur, tercipta ketika dirinya sedang jatuh cinta.  “Semua lagu di album ini seperti kisah perjalanan hidup saya yang juga dirasakan siapa saja.”
 
Melakoni peran sebagai calon arsitek dan musisi, tentu perlu energi yang tidak biasa. Sebagai mahasiswi arsitektur, Dias kudu berjibaku dengan tugas dan kuliah di Southern California Institute of Architecture di Amerika Serikat, yang kabarnya adalah salah satu kampus aristektur terbaik di dunia. Sisi lain, harus menjalani kehidupan sebagai debutan musisi di Indonesia. Ini jadi pertanyaan banyak pihak, tapi simaklah jawaban Dias:
 
“Saya sudah berhitung risiko atas pilihan ini.  Buat banyak orang, mungkin arsitek dan musik adalah dua hal yang berbeda.  Buat saya justru dua-duanya kuat dengan dunia seni dan bisa saling melengkapi.  Saya termasuk orang yang tidak suka melakukan pilihan-pilihan dengan setengah hati,” tegasnya.
 
Kesempatan berkarier sebagai arsitek terbentang lebar di depan, tapi menjadi musisi juga impian yang hadir secara tiba—tiba. Apa motivasi terbesarnya ketika memutuskan jadi musisi.  “Kebetulan sejak kecil saya sudah mendengar musik jazz, jadi pengaruhnya kuat sekali.  Selain itu, juga menjadi cara untuk mendongkrak diri sendiri semangat mencapai cita-cita,” imbuh perempuan yang sempat ikut membuat ‘Sekolah Bisa’ untuk anak-anak tidak mampu di daerah Bintaro.
 
Satu catatan penting lain, Dias mengaku karyanya menderas justru ketika sedang merasakan emosi yang negatif. Perasaan marah, malas dan bad mood, adalah trigger ketika menulis lagu.  “Menumpahkan rasa apapun dalam lirik lagu, menjadi pelarian positifku.  Paling tidak saya merasa lega tanpa harus melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri,” tandas anak pasangan Rika Lokesworo dan Dyakso Lokesworo ini kalem.
 
Bicara soal album yang berisi 9 lagu ini, Dias tidak membantah kalau banyak pengaruh yang masuk dalam aransemen lagunya. Beberapa lagu menyusupkan spirit reggae, rock n’blues dan pop-jazz. Bukan tidak konsisten, tapi selain menunjukkan kekayaan referensi, juga supaya album debut ini bisa dinikmati oleh banyak orang lebih luas.
 
Solois yang menganalogikan dirinya seperti cheetah, karena sudah siap berlari kencang merentang karier bermusiknya ini, tak ingin karyanya hanya membawa pepesan kosong. Ada banyak pesan yang ingin dibagikannya.
 
“Lagu, lirik dan musik adalah satu cara untuk menyampaikan pesan.  Dan lagu saya di album ini adalah pesan bermotivasi.  Mengubah energi negatif yang dirasakan, menjadi energi positif yang dimunculkan.  Saya yakin semua bisa menjadi lebih baik,” ucap alumnus British International School Jakarta, yang pernah tampil bersama choir-nya di A1 Formula gala dinner yang dihadiri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

COMMENTS

VIDEO

You need Flash player 8+ and JavaScript enabled to view this video.
Trax_Plug_n_Play_small

TWITSTREAM